RupiahHak atas foto
ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA

Image caption

Rupiah diprediksi akan kembali melemah jika Bank Sentral AS menaikkan suku bunga mereka Desember mendatang.

Mata uang rupiah terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam dua pekan terakhir.

Namun pengamat menilai tren ini bersifat sementara karena sebagian besar faktor pendorongnya adalah situasi politik dan ekonomi global.

Ekonom dari Samuel Asset Manajemen, Lana Soelistianingsih, menyebut pergerakan positif rupiah dipengaruhi capaian Partai Demokrat pada pemilu sela Amerika Serikat, awal November ini.

Berdasarkan hitung cepat, Demokrat diperkirakan bakal menguasai DPR dan berpotensi mengganjal program dan kekuasaan Presiden AS Donald Trump yang berasal dari Partai Republik.

“Pada momen mid-term election AS, bukan hanya rupiah, tapi mata uang lain juga menguat,” kata Lana, Kamis (08/11).

Merujuk Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), pada Kamis (08/11) satu dolar AS setara Rp14.651.

Sebelumnya, pada 30 Oktober lalu, kurs rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp15.237, nominal yang disebut sejumlah pengamat terendah sejak 1998.

Lana menuturkan, faktor lain yang memperkuat rupiah adalah rencana pertemuan AS dan Cina pada KTT G20 di Argentina, Jumat waktu setempat. Wacana itu disebutnya berpeluang meredakan perang dagang antara kedua negara.

“Potensi kesepakatan perdagangan AS-Cina mengurangi ketidakpastian sehingga pelaku usaha tidak perlu memegang banyak dolar,” ujar Lana.

AS dan Cina belakangan saling menaikkan tarif impor. Perang dagang itu berdampak luas karena keduanya merupakan negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Hak atas foto
ANTARA/JEFRI TARIGAN

Image caption

Kebijakan yang diambil pemerintah dianggap baru akan memunculkan efek positif pada rupiah dalam jangka menengah atau setidaknya tahun 2019.

Bukan kebijakan dalam negeri

Menurut Lana, capaian rupiah tengah pekan ini ta berkaitan dengan siasat pemerintah memperbaiki nilai tukar, awal September lalu.

Selain mengacu pada tren penguatan berbagai mata uang, Lana menyebut kebijakan yang ambil pemerintah tidak ditujukan untuk target jangka pendek.

“Kalau rupiah menguat sendirian, baru kita bisa bilang kebijakan dan kondisi perekonomian domestik sangat positif,” ujarnya.

Saat nilai tukar rupiah merosot, pemerintah mendorong perusahaan melepas stok valas ke pasar dan mengkonversikannya ke rupiah.

Pemerintah juga berniat menggenjot sektor industri manufaktur yang dapat mengeruk banyak devisa. Di sisi lain, pemerintah meminta impor barang konsumtif ditekan.

Bagaimanapun, kata Lana, siasat pemerintah tetap berkontribusi dalam penguatan rupiah saat ini, meski tak sebesar faktor global.

Salah satunya adalah ketentuan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward yang diterbitkan Bank Indonesia dan berlaku sejak 1 November lalu.

“Jika ada yang membawa dolar ke Indonesia dan mengkonversinya ke rupiah, mereka bisa mendapat dolar kembali dengan skema pembelian DNDF,” tutur Lana.

Hak atas foto
ANTARA/SIGID KURNIAWAN

Image caption

Direktur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengeluarkan sejumlah kebijakan agar rupiah menguat dan stabil.

Siapa yang paling beruntung?

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, memprediksi penguatan rupiah bersifat temporer.

Jika Bank Sentral AS, The Fed, menaikan suku bunga Desember nanti, rupiah berpeluang kembali anjlok.

“Saya kira penguatan rupiah tidak akan jangka panjang, investor akan kembali berpikir rasional. Apalagi kebijakan moneter The Fed biasanya akan diikuti bank sentral negara-negara lain,” ucapnya.

Atas dasar itu pula, kata Bhima, kenaikan rupiah saat ini tak bakal mendorong pembelian dolar dalam jumlah besar.

Dampak positif tren ini disebutnya hanya akan dirasakan para pelaku impor atau pengusaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

“Mereka bisa memborong impor untuk memenuhi kebutuhan produksi awal 2019 karena dolar melemah,” kata Bhima.

Hak atas foto
DETIKCOM/MUHAMMAD RIDHO

Image caption

Aktivitas pertukaran rupiah disebut tak melonjak meski tren penguatan terjadi lebih dari sepekan lalu.

Menurut pengakuan sejumlah kantor jasa penukaran valas, penguatan rupiah dalam sepekan terakhir tak diikuti tren penukaran mata uang.

“Tidak ada peningkatan karena kenaikan rupiah kan juga baru belakangan ini,” kata Bani, pegawai di Dolarindo Money Changer, Tangerang Selatan.

Hal yang sama dinyatakan Vit Money Changer, Jakarta Barat.

“Transaksi kurs masih stabil, bahkan cenderung turun.”



Baca selengkapnya: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-46141755

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.