lebaran, politik, keluargaHak atas foto
NurPhoto

Image caption

Keluarga berkumpul saat lebaran.

BBC Indonesia melontarkan pertanyaan mengenai kekhawatiran apa yang paling ditakutkan saat bertemu keluarga pada saat lebaran, banyak yang menjawab dengan kekhawatiran akan perdebatan politik.

Hasil pemilihan Pilpres 2019 – dengan pemenang yang diumumkan Komisi Pemilihan Umum, KPU adalah Joko Widodo dan Ma’ruf Amin- tengah digugat oleh capres cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Perpecahan antara pendukung kedua kubu sangat terasa dan salah satu pekerjaan rumah terberat bagi pemenang pilpres ke depannya ialah menyatukan masyarakat yang sudah terpecah-belah karena pilpres, kata Direktur eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Proses rekonsiliasi, menurutnya, perlu dilakukan tidak hanya dengan Prabowo, tapi juga dengan tokoh-tokoh masyarakat.

Ia juga mengatakan narasi dalam politik identitas yang muncul sebelum dan setelah pemilihan presiden 2019 menguak potensi keretakan sosial di masyarakat yang berbahaya jika tak dihentikan.

Potensi itu terlihat dari kekhawatiran para pengguna Instagram yang akan mudik ke kampung halamannya pada lebaran mendatang.

Saat BBC Indonesia melontarkan pertanyaan mengenai kekhawatiran apa yang paling ditakutkan saat bertemu keluarga, banyak yang menjawab dengan kekhawatiran akan perdebatan politik.

“Satu ruangan bakal “barbar,” kata pengguna Instagram @Fikrinov.

“Pasti, karena saya beda sendiri pilihan politiknya,” kata Ratihaffand1. Pengguna Instagram Rocky Azbar yakin pembicaraan akan terjadi karena suasana politik negeri ini masih panas.

“Apalagi keluarga saya banyak yang beda pilihan,” demikian menurut pembaca bernama Anggie Charisma.

Bagaimana menanggapinya? Berikut ini beberapa kiat dari para pembaca. Dari menjawab, hingga mengalah dan mengalihkan perhatian.

1. Menanggapi dengan rasional

“Saya akan tanggapi dengan jawaban rasional dan sesuai dengan fakta yang ada,” kata pemilik akun Minarnaibaho. “Yang penting, bicara fakta yang ada datanya.”

“Asal opini tidak menjatuhkan lawan, masih oke. Dan harus pintar-pintar mengerem,” kata pemilik akun @Ayuditawidya.

Hsnsobro menilai, semua orang punya argumen, harus dihargai dan dihormati.

“Tanggapi dengan bijak, karena setiap orang punya sudut pandan politik yang berbeda-beda,” kata Tami Nasution.

2. Banyak yang memilih untuk mengalah

“Salah satu harus mengalah demi ketentraman dan kerukunan keluarga,” kata Wiranto Ahmad.

“Senyum saja, perbedaan ini tidak akan pernah ketemu kalau dibahas,” kata @dennyach.

“Saya akan mencoba senetral mungkin dalam menjawab. Barusan maaf-maafan masa sudah bertengkar lagi karena politik,” kata Atika Chan.

3. Diam saja atau alihkan perhatian

“Kalau mulai ngomong politik, langsung alihkan isu dan main sama ponakan,” kata Lutfia Anggriani.

Pengalihan pembicaraan bisa dimulai ketika sudah ada indikasi argumen fanatik pada salah satu calon, kata Arief Hakim.

Pokoknya alihkan ke pembahasan yang lebih kekeluargaan, kata @agi_1600. Pembaca bernama Rocky Akbar bahkan menyatakan menolak menanggapi, karena menurutnya kalau menanggapi tidak ada ujungnya.

4. Bercanda

Santai, bercanda tapi mengena, kata afiif Mukhlishin. “Akan aku jawab, siapapun presidennya, kalau tidak kerja ya tidak akan dapat duit,” kata @Nurizzalutful.

Meski demikian mereka tak terlalu khawatir pembicaraan itu bisa menimbulkan keributan atau pertengkaran. “Mungkin hanya sekadar mengisi kekosongan saat berjumpa,” kata @IntanFitraMartin.

Pembaca dengan akun @ad.bast yakin debat politik tidak akan terjadi di keluarganya. Sebab “kami sekeluarga “satu” suara,” kata dia.

Tak semua keluarga cemas dengan perbedaan politik. “Bagi keluarga kami, banyak topik yang lebih menarik dibanding perbedaan politik,” kata @Ellbaruna.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Apa itu politik identitas?

Pertanyaan dan tuntutan keluarga

Selain diskusi politik, pertanyaan dan tuntutan keluarga besar menjadi beban dan kekhawatiran pengikut Instagram BBC Indonesia.

Meskipun jawaban paling banyak adalah kekhawatiran mengenai pertanyaan kapan nikah, tapi ternyata mereka yang masih kuliah atau sudah menikah pun masih khawatir dengan “berbagai pertanyaan menjebak”.

Mereka yang baru lulus SMA dan sedang berupaya mencari tempat kuliah pun mulai dipusingkan dengan pertanyaan “kapan”.

“Kamu barusan lulus ya, masuk Universitas apa? Kenapa tidak masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri)?” kata akun @zzviradw_ “Jadi tidak tenang,’ kata @paatoni yang juga masih belum diterima kuliah.

Setelah masuk kuliah, hal yang dikhawatirkan oleh para mahasiswa adalah “pertanyaan kapan lulus’, kata Andini Wiyono. Tak cuma mahasiswa S1, tapi juga mereka yang melanjutkan kuliah pascasarjana. “S2-nya kok lama, belum selesai-selesai,” kata @arief.hakim_

Mereka yang sudah lulus kuliah pun kemudian akan ditanya, “sudah kerja atau belum”, demikian menurut @LAdiaandriana.

“Yang akan muncul pasti pertanyaan kapan nikah, mana calonmu?” kata @qnatwins.

“Saat berkumpul dengan keluarga ditanya kapan kenalin calonnya, kapan kawin,” kata @diesuid_04.

“Pertanyaan basa-basi, endingnya ditanya kapan kawin.” Dan bukan hanya keluarga, pertanyaan tersebut juga datang dari tetangga. “Saya takut jadi omongan orang di kampung,” kata @Novinrp.

Apakah setelah menikah pertanyaan itu berhenti? Tidak semudah itu. Setelah berhasil menjawab pertanyaan “Kapan nikah?”, Rachma Lailiyah kini selalu dikejar pertanyaan “sudah isi belum?”.



Baca selengkapnya: http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-48476108

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.