sofyanHak atas foto
Detikcom/Wildan

Image caption

Mantan Kapolda Metro Jaya, Sofyan Jacob, memenuhi panggilan kepolisian pada Senin (17/06).

Mantan Kapolda Metro Jaya, Komjen (Purnawirawan) Muhammad Sofyan Jacob, mengaku tidak mengetahui mengapa kepolisian menetapkan dirinya sebagai tersangka kasus dugaan makar.

“Saya nggak tahu apa salah saya,” kata Sofyan kepada para wartawan setibanya di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (17/6).

Sofyan tiba pukul 10.20 WIB di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya dengan mengenakan kemeja putih dan didampingi kuasa hukumnya, Ahmad Yani.

“Jadi, saya akan datang sebagai purnawirawan polri yang taat pada hukum, saya penuhi panggilan panggilan ini,” imbuhnya.

Pemeriksaan hari ini merupakan panggilan pemeriksaan kedua Sofyan.

Senin (10/06) pekan lalu, dia telah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. Namun, ia mangkir dengan alasan sakit.

Hak atas foto
Antara/RENO ESNIR

Image caption

Sofyan adalah mantan petinggi TNI/Polri ketiga dari kubu Prabowo-Sandiaga yang dijadikan tersangka makar, setelah mantan Pangkostrad Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen serta mantan Komandan Jenderal Kopassus, Soenarko.

Penetapan Sofyan Jacob sebagai tersangka, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, didasari oleh keterangan 20 saksi, termasuk saksi ahli, dan barang bukti berupa rekaman video yang diduga disuarakan Sofjan di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada 17 April lalu.

Saat itu, Sofyan dituduh menyuarakan berita hoaks terkait dugaan kecurangan pada penyelenggaraan Pemilu 2019.

Sofyan kemudian dikenai Pasal 107 KUHP dan atau 110 KUHP juncto Pasal 87 KUHP dan atau Pasal 14 Ayat 1 dan Ayat 2 dan atau Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Pada Pemilu 2019, Sofyan mendeklarasikan diri sebagai pendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sofyan adalah mantan petinggi TNI/Polri ketiga dari kubu Prabowo-Sandiaga yang dijadikan tersangka makar, setelah mantan Pangkostrad Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen serta mantan Komandan Jenderal Kopassus, Soenarko.

Pria kelahiran Tanjung Karang, Lampung, pada 31 Mei 1947 itu menjabat Kapolda Metro Jaya sejak 8 Mei 2001 hingga 18 Desember 2001 dalam dua masa kepresiden yang berbeda, yakni Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri.

Pada Juli 2001, Gus Dur pernah memerintahkan Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan, Agum Gumelar dan Wakapolri Komjen Chaeruddin Ismail untuk menangkap Sofyan karena dianggap membangkang terhadap Presiden.



Baca selengkapnya: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48658616

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.