Tanda seruHak atas foto
Getty Images

‘Hai! Semoga kamu baik-baik saja! Aku senang menerima pesanmu!’

Saya dikenal karena sifat saya yang ceria. Bahkan di hari-hari terburuk yang saya lalui, saya tetap memasang tampang bahagia ketika mengobrol dengan orang-orang di luar lingkaran pertemanan dan rekan kerja. Dalam pesan di surel saya, perilaku ini berubah bentuk menjadi ‘tanda seru’.

Saking keasyikan untuk selalu tampil baik, saya sering mendapati diri saya menggunakan tanda seru pada setiap akhir kalimat pada pesan yang saya tulis. Dan saya tidak malu untuk mengakuinya, karena saya yakin Anda juga pasti pernah mengirim email serupa.

Coba lihat beberapa pesan teks yang Anda baru kirimkan. Jika Anda seperti saya, Anda akan melihat banyak tanda seru dan berbagai ekspresi keramah-tamahan pasti tersebar di dalamnya: “Saya nantikan hasil akhirnya!” dan “Saya tidak sabar menunggu jawaban dari Anda!” dan “Senang bisa membantu!”

Apakah Anda seperti itu?

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Penggunaan tanda seru pada logo kampanye mantan kandidat capres AS 2016, Jeb Bush, diolok-olok media massa

Berapapun jumlah email yang Anda kirim setiap harinya, Anda selalu membuat keputusan-keputusan kecil tentang bagaimana caranya menyampaikan, menjelaskan, hingga mengklarifikasi gagasan Anda secara langsung kepada si penerima email. Dan di situlah karakteristik yang telah dipupuk puluhan tahun mulai timbul, dan kebutuhan untuk disukai orang lain – yang didasari oleh perasaan khawatir – muncul.

Terlebih bagi perempuan, yang diketahui lebih sering menggunakan tanda seru ketimbang laki-laki. Dalam penelitian tahun 2006, peneliti menganalisa 200 penggunaan tanda seru dalam grup-grup diskusi profesional, dan menemukan bahwa wanita menuliskan 73% tanda seru. Penelitian itu menyimpulkan bahwa perempuan menggunakan tanda seru lebih sering daripada pria dengan tujuan untuk menunjukkan keramahan dalam interaksi profesional mereka.

Bagi saya, momok yang melatarbelakangi penggunaan tanda seru yang saya lakukan sebagai berikut: Saya menggunakannya secara berlebihan karena tekanan yang saya rasakan untuk tetap menjaga perasaan lawan bicara saya.

Nuansa standar yang saya pancarkan adalah rasa antusias, bahkan ketika situasinya tidak sesuai.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Tanda seru terkadang bisa mengekspresikan emosi yang kuat. Parlemen Eropa menggunakannya untuk memprotes perubahan konstitusi Hungaria tahun 2013 lalu

Menjadi baik

Perempuan cenderung menunjukkan secara berlebihan kebaikan hati kita – saya seorang perempuan – di tempat bekerja, dan bukannya tanpa alasan yang baik. Menurut laporan McKinsey tahun 2018 tentang ‘Perempuan di Lingkungan Kerja’, perempuan punya peluang lebih kecil untuk dipekerjakan atau dipromosikan ke posisi yang lebih senior, dan memiliki tekanan untuk memberi bukti lebih banyak atas kompetensi kita dibanding kolega kita yang laki-laki. Dan – sama sekali tidak mengejutkan bagi banyak perempuan – keputusan yang kita ambil dalam bidang yang kita kuasai lebih sering dipertanyakan.

Apakah ini sebabnya saya mengkompensasi secara berlebihan hal-hal tersebut melalui bentuk antusiasme?

Saya takut tidak mendapatkan apa yang saya inginkan atau butuhkan, sehingga saya melembutkan nada bicara saya dan menunjukkan betul ketertarikan saya saat membicarakan sesuatu. Saya menambahkan ‘selapis’ keramahan karena tidak mau dianggap angkuh. Setiap tanda seru – yang sebenarnya tidak diperlukan – menandakan permintaan saya kepada lawan bicara saya untuk tolong sukai saya, dan katakan Anda setuju.

Hal ini juga terjadi di luar urusan email. Dalam perusahaan yang karyawannya bercampur baur, saya tidak selalu menjadi orang yang paling lantang di ruangan dan saya pun pernah ragu untuk menyela diskusi. Saya pernah merasa takut untuk berargumen dan akhirnya menahan gagasan serta keahlian diri saya dalam rangka untuk memberi ruang bagi orang lain untuk mendapatkan pujian yang mereka inginkan. Sebenarnya, hal itu berarti, saya tidak memberi kontribusi apa pun hanya gara-gara norma kesopanan.

Perempuan sejak lama dibentuk untuk bersikap baik, mendukung, dan untuk tidak mendominasi. Sesungguhnya, hal ini sangat merusak.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Penggunaan tanda seru kerap ditemukan dalam simbol-simbol peringatan. Menggunakan terlalu banyak tanda seru untuk menunjukkan antusiasme dapat membuat Anda tidak dianggap serius oleh lawan bicara Anda.

Waktu yang terbuang

Ketika saya mencoba mengurangi penggunaan tanda seru, saya meyadari bagaimana antusiasme palsu itu juga muncul dalam keseharian saya. Saya menyadari bahwa waktu yang saya habiskan untuk menyesuaikan nada bicara saya sangat menguras tenaga.

Menjaga perasaan orang lain itu sangat melelahkan. Dan yang lebih buruk, hal itu sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Pada kenyataannya, saya tidak selalu senang mendengar kabar dari seseorang yang tidak saya kenal. Dan saya tidak selalu merasa senang saat membantu orang lain, karena saya juga punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Menghabiskan energi untuk melayani orang lain sangat menguras tenaga, padahal sebenarnya – energi yang sama – bisa saya manfaatkan untuk proyek kreatif dan cita-cita profesional saya sendiri.

Saya menyadari bahwa semua antusiasme tatabahasa itu mulai mengarah ke kebijakan buka-pintu. Tentu saja, orang-orang akan berpikir bahwa saya baik hati, tapi apa yang saya korbankan dalam prosesnya?

Bukan hanya tanda baca yang saya tulis – tetapi cara saya berbicara dalam berbagai rapat. Bagaimana saya menyepakati sesuatu yang sebenarnya saya tidak setujui. Bagaimana saya membatasi (dan tidak membatasi) waktu pribadi saya sendiri. Ketika saya ‘melayani’ orang lain dengan cara menomorduakan kebutuhan dan proyek pribadi, saya menggagalkan diri dan tim saya sendiri.

Meninggalkan kebiasaan

Sambil belajar mengendalikan penulisan tanda baca, ternyata saya bisa menguasai penggunaan tanda seru sebagai alat untuk berinteraksi sosial ketimbang sebagai mekanisme untuk menyesuaikan diri. Seperti peletakkan emoji senyum yang baik, penulisan tanda seru yang tepat dapat membuat saya terhubung dengan baik dengan orang yang saya ajak mengobrol, entah teman baik saya atau email kepada orang asing.

Alih-alih menggunakan ekspresi keramah-tamahan, saya membiarkan perkataan saya yang berbicara. Saya menggunakan tanda seru sehemat mungkin, dan hanya ketika terasa jujur dan tulus – bukan gara-gara saya merasa khawatir. Jika saya perlu memberi kesan yang baik, ada sejumlah cara lain untuk membangun hubungan emosional tersebut di luar penggunaan tanda baca. Kini, saya memilih substansi pesan daripada gaya penulisan yang tak berguna, seperti memuji hasil pekerjaan seseorang, atau mengirimkan artikel yang saya rasa akan mereka sukai.

Sekarang, saya dengan sadis mengganti semua tanda seru dengan tanda titik. Tanda titik memberi saya ruang dan ketegasan akan gagasan yang saya ungkapkan, dan bahwa saya tahu persis apa yang saya inginkan.

Hal itu juga membuat saya tertantang untuk bisa memelihara kotak pesan masuk saya dengan lebih seksama: Saya mengatur waktu yang saya miliki dengan mempertimbangkan perlu-tidaknya saya mengirim pesan balasan dan apa alasannya. Jika saya merasa bahwa pesan balasan tidak akan memberi informasi tambahan dan tidak membahayakan korespondensi lebih lanjut, saya tidak akan menulisnya.

Saya juga merasa bahwa komunikasi verbal saya menjadi lebih tegas. Ketika saya tidak merasa percaya diri, saya terkadang terdengar bersuara tinggi, dengan nada seperti ingin bertanya. Saya merancang kebutuhan saya dalam bentuk pertanyaan ketimbang instruksi, dan di situ pula waktu yang tepat untuk meletakkan tanda titik. Kita tidak perlu meminta izin secara baik-baik agar pendapat kita didengar; pemikiran dan kontribusi kita valid dan layak dipertimbangkan.

Saya menghapus topeng tanda baca yang menguras tenaga, dan membuat ‘garis tebal’ untuk melindungi waktu dan energi saya. Tetapi kadang – tentu saja – saya berseru.

Karena tanda seru, seperti kebaikan hati, adalah sumber daya yang berharga. Dan saya akan menggunakannya seperlunya. Titik.

Anda dapat membaca artikel berbahasa Inggris seperti artikel The danger of overusing exclamation marks ini di laman BBC Capital.



Baca selengkapnya: http://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-48835156

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.