Ratna SarumpaetHak atas foto
Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Image caption

Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet melambaikan tangannya saat bersiap menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (11/07).

Ratna Sarumpaet divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (11/07), karena terbukti menyiarkan berita bohong dan sengaja menerbitkan kebohongan.

Sebelumnya, Ratna Sarumpaet dituntut enam tahun penjara oleh jaksa penuntut umum, karena dianggap terbukti bersalah menyiarkan berita bohong dan sengaja menerbitkan keonaran.

Dalam dakwaan pada akhir Februari 2019 lalu, Ratna dikenai Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana karena dianggap telah menyebarkan berita bohong untuk membuat keonaran.

Ratna dianggap menimbulkan kegaduhan di masyarakat, karena dirinya mengaku dianiaya oleh orang tak dikenal, dan dia kemudian mengadu ke calon presiden Prabowo Subianto dan Badan Pemenangan Nasional (BPN).

Jaksa menilai, tindakannya itu memantik banyak pihak ikut berkomentar dan menimbulkan keresahan dan kegaduhan di masyarakat.

Belakangan, Ratna mengaku berbohong dan mengakui bahwa mukanya bengkak karena hasil operasi pengencangan kulit muka di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Ratna menganggap tuntutan jaksa tersebut terlalu dibesar-besarkan. Dia menyebut pasal yang didakwakan atas dirinya tidak terbukti dalam persidangan.

“Saya merasa narasi dari seluruh tuntutan hiperbola, dibesar-besarin didramatisir,” katanya, akhir Mei lalu, usai pembacaan tuntutan atas dirinya.

Hak atas foto
Sigid Kurniawan/ANTARA FOTO

Image caption

Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet (tengah) tiba untuk menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (11/07).

Pihak pengacaranya, dalam dupliknya, pekan ketiga Juni lalu, menyebut bahwa kliennya menyebarkan hoaks untuk menutupi rasa malu, lantaran menjalani operasi sedot lemak.

Tim kuasa hukumnya juga berulangkali bahwa dakwaan melakukan keonaran itu tidak pernah terbukti.

Ratna, menurut pengacaranya, juga menganggap kasusnya dipaksakan untuk membungkam sikapnya yang sering mengkritik pemerintah.

Adapun jaksa penuntut tetap bersikukuh Ratna terbukti menyebarkan berita bohong, baik secara langsung atau tidak langsung, yang menyebabkan keonaran.

Jaksa menyandarkan pada fakta persidangan, seperti terekam dari kesaksian sejumlah saksi yang dikirimi foto Ratna dengan wajah lebam yang disertai keterangan akibat pemukulan.

Ratna ditangkap saat hendak terbang ke Chile

Pada awal Oktober 2018, Ratna Sarumpaet ditangkap polisi ketika berada di Bandara Sukarno-Hatta. Saat itu Ratna mengaku hendak terbang ke Chile untuk menghadiri sebuah konferensi.

Penangkapan itu dilakukan tidak lama setelah dia ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran berita bohong terkait tuduhannya dianiaya.

Hak atas foto
ANTARA FOTO

Image caption

Ratna Sarumpaet usai menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jumat, 5 Oktober 2018.

Ketika itu kepolisian juga membeberkan bukti-bukti yang menyanggah pernyataan-pernyataan Ratna yang mengaku dianiaya sejumlah orang di kota Bandung pada 21 September 2018.

Klaim Ratna ini kemudian direspon oleh sejumlah tokoh politik, termasuk pasangan capres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Belakangan Ratna mengakui dirinya berbohong.

Sejumlah pihak kemudian melaporkan Ratna Sarumpaet ke polisi atas penyebaran berita bohong.

Sebelumnya Ratna dilaporkan sejumlah pihak ke Polda Metro Jaya karena dianggap menyebarkan berita bohong.

Prabowo meminta maaf

Cerita bohong Ratna Sarumpaet saat itu telah mengecoh sejumlah politikus, salah satunya calon presiden Prabowo Subianto, yang membuatnya kemudian meminta maaf.

Hak atas foto
ANTARA FOTO

Image caption

Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bandung Raya, pada Oktober lalu, menuntut Ratna minta maaf kepada warga Bandung.

“Saya atas nama pribadi dan pimpinan tim kami ini, kami minta maaf kepada publik bahwa saya telah ikut menyuarakan sesuatu yang belum diyakini kebenarannya,” kata Prabowo dalam konferensi pers pada 3 Oktober 2018.

Sebelumnya, Ratna mengakui dalam jumpa pers bahwa lebam-lebam di bagian wajahnya bukan karena “dipukul dan dikeroyok di Bandung” tapi karena efek dari prosedur pengangkatan lemak di pipi kanan dan kiri.

Prabowo sempat mengecam ‘penganiayaan’ terhadap Ratna, yang merupakan anggota badan pemenangan Prabowo-Sandiaga. Dalam sebuah jumpa pers, Prabowo menyebutnya “melanggar HAM”.

Atas perannya dalam tersebarnya kebohongan ini, Prabowo menyatakan bahwa ia tidak salah, tapi terlalu terburu-buru memberi pernyataan.

“Saya tidak merasa berbuat salah, tapi saya akui saya grusa-grusu (terburu-buru). Tim saya ini baru, baru belajar. Tapi tidak ada alasan kalau kita salah, kita akui salah,” ujar Prabowo.

Ratna semula klaim ‘dipukul dan dikeroyok’

Tidak lama setelah polisi mengungkap bahwa Ratna berbohong terkait kondisi wajahnya, Ratna Sarumpaet akhirnya mengakui bahwa lebam-lebam di bagian wajahnya bukan karena dipukul tapi karena prosedur pengangkatan lemak di wajahnya.

Sebelumnya, kabar bahwa Ratna “dipukul atau dikeroyok di Bandung” menjadi viral.

Fotonya dengan wajah yang lebam-lebam ramai dibagikan di media sosial, yang membuat Prabowo sendiri, didampingi Amien Rais dan Fadli Zon menemui Ratna secara langsung, awal Oktober 2018 lalu.

Sejumlah politikus di kubu Prabowo “menganggap pemukulan terhadap Ratna berlatar belakang politik, karena Ratna dikenal sebagai salah satu pengkritik Presiden Joko Widodo”.

Simpati pun berdatangan, dan Ratna antara lain “digambarkan sebagai Cut Nyak Dien dan RA Kartini di masa kini”, oleh Hanum, putri Amien Rais.

Belakangan setelah muncul pengakuan Ratna, Hanum meminta maaf melalui akun Twitternya. Hanum mengatakan pertemanan dan hubungan baik selama ini membuatnya mudah tersentuh dan iba.

“Apalagi saat beliau dengan meyakinkan menceritakan adegan pengeroyokan dengan air mata serta menunjukkan bekas di wajah. Naas, beliau mencederai kepercayaan kami semua, seluruh masyarakat Indonesia,” kata Hanum.



Baca selengkapnya: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48946433

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.