sandiagaHak atas foto
Antara/SIGID KURNIAWAN

Image caption

Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno tiba untuk menyaksikan sidang putusan MK terkait sengketa Pilpres 2019 di kediaman Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Jakarta Selatan, Kamis (27/6).

Sandiaga Uno menyampaikan ucapan selamat bekerja kepada Joko Widodo dan Ma’ruf Amin setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan keduanya sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024.

Ucapan Sandiaga dikemukakan melalui akun Instagram pribadinya.

“Kita ketahui bersama, MK telah memutuskan paslon 01 dinyatakan sebagai pemenang pada Pemilihan Presiden 2019. Dan dengan demikian Pak Joko Widodo, didampingi KH Ma’ruf Amin akan memimpin pemerintahan lima tahun akan datang, dan hari ini kita akan saksikan penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU,” kata Sandiaga dalam balutan kemeja biru.

“Untuk itu saya ucapkan selamat bekerja, selamat menjalankan amanah rakyat, selamat berjuang untuk terus mencapai cita-cita, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” sambungnya.

Dalam penuturannya, Sandiaga juga menyampaikan harapannya agar rakyat Indonesia tidak bermusuhan, walaupun berbeda pilihan politik.

“Setelah keputusan ini, saya harap seluruh komponen bangsa harus kembali bersatu, bekerja sama bahu-membahu untuk memajukan bangsa ini. Perbedaan pilihan politik tidak harus membuat kita bermusuhan. Kekecewaan pada diri kita oleh sebab apapun tidak harus membuat kita berhenti berjuang bagi kepentingan bangsa dan negara,” paparnya.

‘Kayak budaya Barat’

Perkataan Sandiaga ini berbeda jika dibandingkan dengan ucapannya pada Minggu (30/06).

Ketika ditanya mengapa dia belum mengucapkan selamat kepada Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, Sandiaga menilai ucapan selamat seperti budaya Barat.

“Kami sudah menghormati putusan MK kemarin dan ini sudah tingkatan yang paling tinggi bahwa kita menghormati prosesnya dan selamat-selamat itu kan kayak budaya Barat ya. Di dalam kontestasi kita, setiap kali ketemu kita cipika-cipiki, selama debat kemarin kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik, jadi nggak ada masalah,” kata Sandiaga Uno, Minggu (30/6), sebagaimana dikutip Detik.com.

“Kalau kita mau selamat, selamat apa? Selamat kerja, selamat menempuh hidup baru? Ini budaya-budaya yang bukan keindonesiaan menurut saya,” imbuhnya.

Menurut dia, pidato Prabowo Subianto setelah Mahkamah Konstitusi menolak permohonan gugatan tim kuasa hukum Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga lebih bemakna.

“Kita sudah menghormati dan memberikan kesempatan itu sudah jauh lebih tinggi maqomnya,” sebut Sandiaga.

Hak atas foto
Antara/NOVA WAHYUDI

Image caption

KPU menetapkan Jokowi Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai presiden-wakil presiden periode 2019-2014.

Mendinginkan suasana

Ucapan Sandiaga yang menyetarakan ucapan selamat dalam pemilu dengan budaya Barat dikritik Hurriyah, Wakil Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik FISIP Universitas Indonesia.

Dia menilai tak sepenuhnya benar bahwa pengucapan selamat dari pihak yang kalah kepada pemenang pemilu merupakan budaya Barat.

“Kalau tradisi itu dianggap eksklusif ada di Barat, itu yang keliru. Justru tradisi semacam itu adalah tradisi yang baik kalau kita ingin membuat demokrasi menjadi sehat. Karena memang seperti itulah proses kompetisi elektroral dalam sistem demokrasi.

“Yang menang bisa menyampaikan pidato kemenangan dan tantangannya adalah menunjukkan dia mampu menjadi pemimpin buat semuanya. Yang kalah pun harus legowo mengucapkan selamat kepada yang menang sebagai bagian dari kompetisi,” papar Hurriyah kepada BBC News Indonesia.

Ditambahkannya, sikap pihak yang kalah dan yang menang dalam pemilu akan berdampak pada masyarakat.

“Pemilu kemarin itu masih terasa betul di masyarakat: polarisasi, kemudian juga persepsi siapa yang kalah dan siapa yang menang, terlepas dari sudah adanya keputusan MK. Dengan demikian, sikap yang ditunjukkan oleh elite menjadi sangat penting sebenarnya untuk mendinginkan suasana,” tegasnya.

Hal senada diutarakan I Wayan Sunyadnya, sosiolog dari Universitas Brawijaya.

Dia mendorong agar elite politik memberi pembelajaran kepada masyarakat akar rumput dalam kontestasi politik, seperti rekonsiliasi.

“Elite politik harus memberikan pendidikan politik yang bagus kepada masyarakat tingkat bawah. Salah satunya adalah ketika proses pemilu sudah selesai, mengatakan ‘Saya sebagai pasangan yang kalah, saya tunduk terhadap pemerintahan yang sah dan saya akan mendukung pemerintahan yang sah’,” kata I Wayan.

“Apakah secara terus-menerus bahwa kualitas demokrasi kita itu hanya akan terbatas kekuasaan dan setelahnya tidak ada pembelajaran politik seperti rekonsiliasi dan semua pihak siap menerima kemenangan ataupun kekalahan?” tutupnya dengan nada retoris.





Baca selengkapnya: http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48821553

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.