181207195806-sekit.jpg

dokumen galamedianews.com

Sekitar 25 Persen Mahasiswa di Jabar Golput di Pemilu 2019

ADA sekitar 25 persen mahasiswa di Jawa Barat menyatakan tidak akan memberikan hak pilihnya dalam pemilihan umum (Pemilu) 2019, khususnya untuk mepilihan calon legislatif (caleg).

Hal tersebut diungkapkan Koordinator Kaukus Mahasiswa dan Pemuda Budi Marhaen, saat ditemui dalam konferesi pers di salah satu cafe di Jalan Lodaya, Kota Bandung, Jumat (7/12/2018).

Ia menjelaskan, survei yang dilakukan oleh pihaknya belakangan ini dengan menggunakan metode random sampling. Di mana melibatkan responden sebanyak 400 mahasiswa dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat pada periode November 2018.

“Ternyata angka golput di kalangan mahasiswa cukup tinggi. Alasannya, para caleg jika terpilih hanya mementingkan kepentingan pribadi, kemudian banyak terjadi korupsi dan kinerjanya tidak dirasakan oleh masyarakat, sehingga memilih golput,” kata Budi.

Kemudian terkait pilihan mahasiswa di Jabar terkait partai politik dengan indikator caleg, pihaknya mencatat PDIP menjadi urutan teratas. Disusul PKS dan Gerindra.

“PDIP 20 persen, PKS 16 persen, Gerindra 10 persen. Sisanya terbagi ke berbagai partai politik,” ujarnya.  

Budi memaparkan, ada tiga calon legislatif yang paling populer di kalangan mahasiwa, salah satunya Giring Nidji di partai PSI untuk Dapil Jabar I. Sedangkan dua lainnya, yaitu Raden Ajeng Ratna Sumirar dari PDIP untuk Dapil Jabar II dan Doni Ukon juga dari PDIP untuk Dapil Jabar II.

“Dari hasil survei, mereka (mahasiswa) percaya jika tiga caleg DPR RI tersebut tidak korupsi. Karena melihat dari latar belakang para calon. Seperti mereka sudah kaya akan materi sebelumnya,  kemudian secara pengalaman seperti Adjeng ternyata tidak terbelit kasus korupsi, saat dia menjabat DPR RI dulu,” ujarnya.

Dikatakan Budi, tiga calon paling favorit dikalangan mahasiswa ini  dipercaya akan menelurkan inovasi dalam menjalankan tugasnya apabila terpilih kelak. Baik itu dalam fungsi legislasi, pengawasan hingga budgeting serta dipercaya terlihat akan memperhatikan daerah pemilihannya.

“Jadi mereka (mahasiswa) berpendapat secara pengalaman, anggota dewan yang sudah terpilih biasanya lupa pada dapil masing-masing. Baik untuk membangun dapilnya maupun bertemu dengan konstituennya,” tuturnya.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:

Facebook





Artikel ini dikopi dari sumber yang dapat dikunjungi disini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.