JAKARTA – Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo (Jokowi)- KH Ma’ruf Amin melaporkan dugaan kampanye dalam acara tablig akbar Alumni 212 di Gladak, Jalan Slamet Riyadi, ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Solo.

Ketua Bawaslu Solo Budi Wahyono telah menerima laporan dugaan kampanye tersebut. Saat ini lembaganya sedang mengkaji apakah acara tablig akbar 212 melanggar kampanye atau tidak.

Acara Tablig Akbar 212 di Solo berlangsung pada Minggu 13 Januari 2019. Saat itu tidak ditemukan alat peraga kampanye (APK). Namun beberapa peserta terdengar meneriakkan “ganti presiden”.

Menanggapi hal itu, Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI 98), Willy Prakarsa menilai massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 Solo Raya ingin mendelegitimasi lembaga kepolisian karena menuding Korps Bhayangkara menghalangi peserta yang ingin hadir ke acara tablig akbar. Padahal, acara tersebut memang belum mengantongi izin resmi.

“Ini ada upaya mendelegitimasi Kepolisian. Tak bisa dipungkiri kalau massa ini kebanyakan dari ormas yang dibubarkan yaitu HTI. Ada skenario khusus untuk menggiring opini agar masyarakat tidak percaya pada Kepolisian,” ujar Willy melalui keterangan tertulisnya, Senin (14/1/2019).

Willy heran institusi polisi kena getahnya lewat tudingan PA 212 tersebut. Padahal, mereka sendiri yang disebut tidak mematuhi aturan. Dia meminta PA 212 tidak menebarkan hoaks seolah-olah terdzalimi tidak boleh ikut pengajian.

“Sudahlah jangan bikin hoaks lagi, seolah-olah terdzolimi tak boleh ikut pengajian. Acara itu ilegal, tak ada izin. Itu pun bukan pengajian tapi kegiatan politik arahnya ke 02,” tandasnya.

Lebih lanjut, Willy mengingatkan agar para peserta maupun panitia acara bisa taat pada aturan yang berlaku. Kata Willy, pemberitahuan dan perizinan itu berbeda, apalagi jumlah peserta ribuan dari berbagai daerah.

(Baca Juga: TKD Jokowi-KH Ma’ruf Laporkan Acara Tablig Akbar 212 ke Bawaslu Solo)

“Sebagai warga negara yang baik dan muslim yang baik, harusnya taat aturan. Bukan malah bentak-bentak polisi yang bertugas, lantas memojokkan polisi yang bertugas seolah-olah mereka menghalangi acara Tabligh Akbar. Yang Polisi lakukan itu mengamankan agar situasi berjalan kondusif, apalagi acara itu ilegal tak kantongi izin,” imbuh dia.

Willy menduga acara tablig akbar PA 212 Solo Raya bukan acara pengajian atau ceramah keagamaan, namun merupakan kegiatan politik. Ia berpendapat upaya polisi melakukan penyekatan sudah tepat lantaran kegiatan tersebut ilegal.

“Polisi di sini hanya menjalankan tugas agar acara itu tidak mengganggu kepentingan masyarakat lain. Kami yakin ada kepentingan politik 02 dibelakangnya untuk mendelegitimasi Polri. Sudah paham lah, masyarakat sudah cerdas apa maksudnya,” tandas Willy.

(kha)





Baca selengkapnya: http://news.okezone.com/read/2019/01/14/605/2004421/dilaporkan-ke-bawaslu-tablig-akbar-pa-212-diduga-mengandung-kegiatan-politik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.